Jumat, 27 Juni 2014

Sambutan Ketua Yayasan



Pemerintah Kota Surabaya akhirnya menutup Lokalisasi Dolly, (18/6). Meski puluhan orang berpakaian preman berupaya menghalangi kebijakan itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tidak takut. Ia bahkan telah berpamitan kepada keluarga dan meminta mereka ikhlas jika dirinya tewas dalam upaya penutupan kawasan pelacuran terbesar di Asia Tenggara tersebut.
"Saya pamit pada keluarga untuk tutup Gang Dolly hari ini. Kalau saya mati, ikhlaskan", kata Risma seperti dikutip Vivanews. [IK/bersamadakwah]

Hal ini juga yang disampaikan bapak Drs.Nur Asyik selaku ketua yayasan Mi`barul Hidayah Tegalgubug dalam sambutannya pada acara Ahirussanah/Imtihan MI/MDA/TPQ Mi`barul Hidayah pada hari selasa 24 Juni 2014 kemaren. Beliau bercerita tentang perjuangan dan kegigihan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk menutup lokalisasi terbesar se Asia tenggara itu. Di saat orang-orang lagi rame berikrar dan mendukung Capres Cawapres, disaat para Kiai, para Ustad, para tokoh agama, tokoh Masyarakat dengan lantang mengucapkan dukungannya pada Capres dan Cawapres, tapi apakah serame itu dukungan untuk  Tri Rismaharini ? sambil menatap hadirin yang kebetulan disampin para guru dan Kiai,  ibu-ibu dan pelajarpun ikut hadir pada acara tersebut. Kemudian beliau melanjutkan ceritanya bahwa salah satu Alasan ibu Risma bersih keras menutup lokalisasi itu, menyangkut masalah pendidikan moral anak-anak hingga usia remaja yang berada di sekitar lokalisasi. Mau tidak mau, geliat prostitusi akan berdampak pada psikologis anak-anak di sekitar lokalisasi. Dalam setiap kesempatan menyangkut masalah penutupan lokalisasi, Risma selalu mengungkapkan, dia pernah menemui PSK yang sudah berumur 60th, tapi yang menjadi langganannya adalah anak-anak sekolah bahkan anak SD. Miris jika mendengar cerita ini, berkaitan dengan cerita ini beliau juga merasa prihatin karena makin berkurangnya minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya pada lembaga pendidikan yang berbasis pesantren ahir-ahir ini termasuk MI (Madrasah Ibtidaiyah) . dalam kesempatan itu beliau menghimbau agar orang tua untuk memasukan anaknya ke Lembaga Pendidikan yang berbasis pesantren agar anak didik punya bekal  ilmu agama yang cukup dan tidak mudah terjerumus kedalam per Gaulan yang tidak benar.
 

Ngaji bareng K.H. Abdul Syakur



Benar adanya jika kesombongan itu tiada batasnya,   sombong karena memiliki wajah tampan atau cantik, sombong karena kaya dan berharta, sombong karena kedudukan atau pangkatnya lebih tinggi, sombong karena kita lebih baik dari yang lain dan sebagainya. Hal inilah yang diceritakan Bp K.H Abdul Syakur dari Indramayu pada malam rabu 24 Juni 2014 di acara Imtihan  MIS. Mi`barul Hidayah Rembes Tegalgubug beliau  bercerita tentang kesombongan iblis, Sebagai pembelajaran dan renungan, janganlah kita umat Nabi Muhammad SAW memiliki sifat sombong seperti Iblis. Beliaupun menunjukan sebuah hadist
"Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji Atom dari kesombongan."
(HR.Muslim).

Dan hadirin dibuat merinding  dan cemas karna tanpa disadari atau tidak kita semua pernah berbuat sombong.
sesekali beliau mampu membuat hadirin tertawa ketika beliau mencontohkan rasa sombong dengan logat bahasa dermayonnya, kemudian ia melanjutkan ceritanya bahwa Kesombongan Iblis bukan hanya menunjukkan kecongkakannya, akan tetapi juga menunjukkan kepada kita bahwa sombong itu tiada batasnya.
Iblis telah benar-benar sombong karena menolak kebenaran yaitu menolak perintah Allah dan meremehkan Nabi Adam as.

Benarlah peringatan Allah SWT melalui Rasul-Nya.
Rasulullah SAW bersabda,
Allah SWT berfirman:
'Kesombongan adalah pakaikan-Ku, sedangkan kebesaran adalah selendang-Ku, maka siapa saja yang mencabut salah satu dari dua hal itu, maka ia akan Aku lemparkan ke neraka.'
(HR. Ibnu Majah).
Lalu bagaimana dengan kita, apakah kita masih memelihara sifat sombong? , menurut cerita beliau makhluk Allah yang sudah berada di Syurga saja bisa  di keluarkan dari syurga gara-gara kesombongannya. Apalagi  kita yg sama sekali belum pernah merasakan syurga, tegasnya sambil menatap hadirin yang kebetulan barisan yang duduk paling depan adalah para ustad, Kyai dan guru-guru MIS. Mi`barul Hidayah Rembes.